Hayya Bil Jihad

هَيَّا بِا لْجِهَادِ
Marilah Berjihad

الى الأ مام يا أمة الإسلام
Pandang ke hadapan wahai umat islam
يارب انصردين الإسلام
Wahai Tuhanku selamatkanlah agama Islam
على ألأ عا دىجملى يإكمال
Ke atas jalan kelaziman (seperti yang kau janjikan) telah disempurnaakan
ياإخوانى المسلمين هيا للقتال
Wahai sedara muslimku marilah berperang ( jihad )
اذكرالرحمن اذكرالرحيم
Mengingati yang Maha Pengasih mengingati yang Maha Penyayang
على الأ عا دى جملى بإكمال
Ke atas jalan kelaziman (seperti yang kau janjikan) telah disempurnaakan


هيايارجال هيّا بالجهاد
Marilah wahai lelaki marilah berjihad
هيايارجال هيّا بالكفاح
Marilah wahai lelaki marilah dengan bersungguh-sungguh


عيش عزيزا أومت شهيدا
Hidup mulia atau mati syahid
ولاتبالى للعدو... ولاتبالىللعدو
Dan jangan kau berikan daku bala untuk kelaziman(sepanjang) hayat kami
الله اكبر... الله اكبر... الله اكبر... هيّا بالجهاد
ALLAH MAHA BESAR...ALLAH MAHA BESAR...ALLAH MAHA BESAR ...Marilah berjihad

Sunnah Orang Berjuang

Sunnah Orang Berjuang




Berjuang menempah susah

Menanggung derita menongkah fitnah

Itulah gelombang hidup samudera duka

Seorang mujahid membela tauhid



Dipisah dia berkelana

Dibelenggu dia uzlah menagih mehnah

Namun jiwa tetap mara menuju cita

Membara demi Allah dan RasulNya



Berjuang tak pernah senang

Ombak derita tiada henti

Penat resah silih berganti

Inilah sunnah orang berjuang



Malamnya bagai rahib merintih sayu

Dihiris dosa air mata

Siangnya bagaikan singa di rimba

Memerah keringat mencurah tenaga



Sudah sunnah berjuang

Ke jalan Allah



Berjuang memang pahit

Kerana syurga itu manis

Bukan sedikit mahar yang perlu dibayar

Bukan sedikit pedih yang ditagih



Berjuang ertinya terkorban

Rela terhina kerana kebenaran

Antara dua jadi pilihan

Dunia yang fana atau syurga



Berjuang tak pernah senang

Ombak derita tiada henti

Penat resah silih berganti

Inilah sunnah orang berjuang



Malamnya bagai rahib merintih sayu

Dihiris dosa air mata

Siangnya bagaikan singa di rimba

Memerah keringat mencurah tenaga



Berjuang ertinya terkorban

Rela terhina kerana kebenaran

Antara dua jadi pilihan

Dunia yang fana atau syurga



Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
( As-Saff : 10,11)

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki.
( Al-Hajj : 58)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
( Al-Imran : 169)
[248]. Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

"Ya Allah Matikanlah aku dalam syahid dijalanMU"

Berjuang Ertinya Terkorban..

Rasa mati adalah perasaan kesedaran yang tinggi bahawa suatu hari kita akan terbujur kaku selama-lamanya di sebuah pusara yang tertulis di atasnya nama, tanggal lahir dan tarikh mati kita. Perasaan ini merupakan sebuah warna yang sudah lama pudar dalam jiwa keseluruhan manusia.

Indikasi pupusnya rasa mati dalam diri manusia terlihat dalam kecintaannya yang hebat terhadap harta dan kemewahan dunia yang diburunya siang malam. Padahal ia tahu semua yang didambakan itu pasti akan ditinggalkannya. keadaan tersebut juga terpancar dalam kedahagaan yang mencambuk nafsunya sehingga beringas melanggar seluruh aturan, hukuman Tuhan demi tercapainya hasrat dunia yang sementara. Atau pada sambil lewan hatinya terhadap perintah-perintah Allah yang semakin menjauhkan dirinya dari kasih dan sayang Allah SWT.

Setiap hari manusia berlari ke sana ke mari mengusung nafsunya dan tenggelam dalam kesibukan duniawi yang ‘berhasil’ menjadikannya lupa atau pura-pura lupa akan hakikat mati. Banyak sekali yang akhirnya malah benar-benar terkapar dalam keindahan dunia sehingga habislah keyakinannya terhadap hakikat mati. Kondisi seperti inilah yang Allah tegur dalam firmanNya berikut:

Terjemahan:“Katakan, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, justeru ia yang akan menemui kamu’. (Surah al-Jumu’ah 62: 8).

Manusia yang telah habis keyakinannya terhadap hakikat mati adalah manusia yang paling tidak punya nurani. Seluruh fakta tentang kematian yang lalu lalang di hadapannya setiap saat bagaikan angin lalu yang tidak memberi kesan apapun kepada dirinya. Ia acuh saja mendengar keluarga dekatnya, sahabatnya atau handai taulannya meninggal dunia. Bahkan menyaksikan pembantaian saudara-saudaranya sesama Muslim di kaca TV, masih boleh dilaluinya sambil menikmati semangkuk sup hangat tanpa merasa terganggu sedikitpun. Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada hari Idul Adha, di mana kita menyaksikan seekor kerbau atau lembu disembelih, dikulit dan dipotong-potong dagingnya. Sementara kerbau atau lembu lain di sebelahnya masih bisa menikmati setumpuk rumput hijau tanpa merasa terganggu sedikitpun. Padahal ia juga akan disembelih pula pada keesokan harinya.

Beginikah Rasanya Mati?

Bayangkan sejambak rambut di kepala dicabut, atau selembar gam yang melekat di atas luka badan sejak seminggu dicabut. Tentulah sakit sekali rasanya. Lalu bagaimana pula gerangan jika nyawa yang sudah lekat di badan selama puluhan tahun dicabut? Kita tidak akan pernah dapat membayangkan kecuali dengan mendapatkan sumber berita yang berasal dari Nabi SAW dan para salafus soleh.
Dalam sebuah hadits marfu’ diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Na’im r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Demi yang diriku berada di tanganNya, kenyataan (sakitnya) maut itu lebih dahsyat dari seribu bilasan pedang.”

Amru bin Ash ketika menghadapi sakaratul maut ditanya oleh anaknya tentang rasa sakit yang dialaminya. Beliau berkata dengan lemahnya,
“Demi Allah wahai anakku, keadaan tubuhku seakan-akan berada dalam selimut api yang panas membara dan seolah-olah aku bernafas melalui lubang jarum. Aku juga merasa seakan-akan nyawaku melekat pada satu pohon yang penuh duri, kemudian ditarik dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.” Selanjutnya Amru bin Ash menangis seraya berkata,

“Kukejar dunia ini seakan-akan diriku kekal abadi. Sedangkan dibelakangku berlari sang maut merapati langkahku.
Duhai, cukuplah kematian itu sebagai nasihat dan peringatan.”

Demikianlah kesaksian yang dinyatakan oleh sahabat Nabi SAW. Bagaimana pulakah gerangan pengalaman kita peribadi kelak, saya dan anda? Sebaiknya kepada Allah saja kita segera berlindung agar diberi kemudahan dan keringanan saat akhir menutup mata.

Menyiapkan Bekal Kembali

Sahabat Nabi SAW Utsman bin Affan begitu gentar sekali hatinya setiap kali melewati tanah pekuburan. Sering didapati dia menangis sebaik saja melewati sebuah pemakaman. Ketika ditanya oleh seseorang dia menjawab,
“Ketahuilah olehmu, bahawa kubur merupakan pintu gerbang penentuan apakah seseorang akan kekal selama-lamanya dalam kebahagiaan atau kekal selama-lamanya dalam kesengsaraan dan penderitaan.”

Kita sama-sama mengetahui dan menyedari bahwa akhirat merupakan negeri abadi. Abadi berarti kekal dan tidak ada akhir atau penghujungnya. Malangnya lagi kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa yang menentukan apakah kita akan senang dan bahagia, sengsara atau menderita dalam keabadian itu adalah rekod amal kita di dunia yang sebentar ini. Dalam erti kata lain, meskipun dunia ini akan berterusan seratus juta tahun lagipun, kesempatan kita untuk beramal hanya di sini, saat ini dan sekarang ini.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang bekerja dengan sebuah perusahaan di sini dan tiba-tiba diarahkan untuk segera bertukar ke cawangan lain pada esok hari untuk jangka waktu lima tahun. Kira-kira apa yang akan dilakukannya? Tentulah sedapat mungkin dia akan sibuk mempersiapkan diri dalam keadaa waktu yang amat singkat itu. Dalam 24 jam itu pasti dia akan mengepak segala barang-barangnya, mencari pinjaman wang ke sana kemari, memberitahu dan mohon maaf ke seluruh keluarga dan kawan-kawannya yang lain-lain. Bahkan hampir dapat dipastikan malam itu ia tidak dapat melelapkan mata memikirkan keberangkatannya yang mendadak itu.

Ketahuilah bahawa waktu yang tersedia untuk kita mempersiapkan bekal perjalanan menuju akhirat lebih singkat dari ilustrasi yang saya utarakan tadi. Bahkan jangka waktu untuk kita menetap di sana adalah kekal abadi dan tidak terbatas. Yang dapat menyelamatkan kita hanyalah suatu kesedaran yang tinggi dan gerak amal yang konsisten bahwa setiap helaan nafas, ayunan langkah dan tangan selama di muka bumi kita niatkan benar-benar untuk beribadah kepada Allah. Kemudian kita sedari pula bahwa seluruh apa yang Allah perintahkan kita laksanakan dengan sekuat daya upaya kita. Manakala apa jua yang Allah tegah harus serta merta kita tinggalkan sama sekali.

Marilah kita sama-sama mencari cahaya Allah dengan berbuat sebanyak mungkin kebajikan di muka bumi, menebar kasih sayang, melakukan amal jariah, mempersiapkan anak-anak soleh yang dapat mendoakan kita saat terbaring di pusara dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat. Hanya setelah itu saja kita baru akan merasa sedikit siap untuk berangkat kembali ke kampung akhirat, dan agak berani menunggu kedatangan malaikat Izrail.

Rabbana wahai Tuhan kami.
Anugerahkan kami taubat sebelum maut,
kasih sayangMu saat menghadapi maut
dan ampunanMu seusai maut menjemput.
Amin..


Moga kita mampu meraih Syurga yang untuk selamanya.. insya`allah. Ambillah kesempatan yang ada sebelum tidak berpeluang.

SENTIASALAH MENGINGATI MATI
MEMBUAT PERSIAPAN UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN MATI

Perjalanan Hidup Syeikh Abdul Kadir Jailani..

"Pada suatu hari saya telah berangkat dari rumah menuju ke kota Baghdad kerana hendak menuntut ilmu. Kota Baghdad itu sangat jauh dari tempat kediaman saya. Disebabkan itulah maka sebelum berangkat ibu saya telah membekalkan saya sedikit wang iaitu sebanyak 40 dinar sebagai perbelanjaan pergi dan balik. Sebelum bertolak, ibu saya telah berpesan agar saya sentiasa bercakap dan berlaku benar dalam segala hal. Apalagi tujuan saya ke Baghdad ialah dengan tujuan yang mulia di sisi agama.

Dalam perjalanan itu saya menumpang sebuah rombongan kafilah kerana perkara itu adalah biasa bagi orang yang hendak berjalan jauh, apatah lagi ketika itu umur saya masih muda. Dalam perjalanan itu kafilah yang saya ikuti terpaksa melalui daerah Hamadan sebelum sampai ke tempat yang dituju. Kebetulan ketika kami sampai di daerah itu tiba-tiba satu kumpulan orang-orang jahat telah menahan kami. Perompak-perompak itu telah menangkap saya dan menjadikan saya orang tawanan mereka.

Semasa saya dibawa pergi, salah seorang daripada perompak itu bertanya: 'Apakah yang kamu bawa bersama-samamu wahai budak?' 'Saya cuma bawa 40 dinar tuan', ujar saya tegas. Sebaik saja mendengar kata-kata saya itu, mereka meninggalkan saya kerana mereka menyangka saya cuba mempermain-mainkan mereka. Selepas itu datang pula seorang perompak yang lain lalu bertanya. 'Apa yang kamu bawa bersama-samamu wahai budak?'

Maka saya pun menjawab dengan jawapan yang serupa seperti yang saya ucapkan kepada kawan-kawannya tadi. Sebaik-baik saja dia mendengar kata-kata saya itu, dia terus membawa saya berjumpa dengan ketua mereka. Kemudian ketua mereka itu bertanya sebagaimana pertanyaan pengikut-pengikutnya tadi. Dengan tegas saya sekali lagi menjawab dengan jawapan itu juga tanpa berubah sedikitpun. Mendengarkan jawapan saya itu ketua perompak menjadi hairan seraya berkata, 'Hai budak, kenapakah engkau begitu berani sekali berkata benar, sedangkan engkau membawa wang'.

Saya lantas menjawab. 'Tuan sejak kecil lagi ibu saya telah mengajar saya supaya selalu bercakap benar. Hingga sebelum berangkat untuk menuntut ilmu ke Baghdad ini pun, ibu saya berpesan supaya saya jangan bercakap bohong. Saya tidak sampai hati hendak mengkhianati nasihat dan pesanan ibu saya. Apalah harganya wang 40 dinar saya ini tuan, bagi seorang yang mahu menuntut ilmu kerana Allah'.

Demi mendengar jawapan saya itu, maka dengan kuasa Allah swt ketua perompak itu lantas menangis tersedu-sedu di hadapan saya sambil berkata, 'Alangkah mulianya budi pekerti mu hai budak, dan alangkah beruntungnya ibu yang melahirkan engkau. Sedangkan masih kecil begini engkau sudah takut berbuat dosa, tetapi aku pula tanpa segan silu berbuat jahat dan mengkhianati janji dan amanah Allah. Demi Allah swt, mulai hari ini aku bersumpah akan bertaubat dan kembali ke jalan yang suci dan benar.'

Kemudian ketua perompak itupun memerintahkan orang-orangnya supaya memulangkan harta rampasan kafilah saya. Setelah itu kami pun meneruskan perjalanan ke kota Baghdad. Saya mengucapkan syukur ke hadrat Allah kerana bukan saja saya terlindung dari segala musibah bahkan sekelian perompak itu telah bertaubat pula berkat dari sikap saya yang bercakap benar itu."


(Nama Sheikh Abdul Kadir Jailani ra memang sudah terkenal di kalangan umat Islam sehingga hari ini. Beliau adalah seorang alim dan wali yang termasyhur. Sebagai seorang yang soleh dan warak beliau telah meninggalkan suatu kisah hidup mengenai dirinya yang elok dijadikan tauladan dalam hidup kita di hari ini. Kisah ini diceritakan sendiri oleh Sheikh Abdul Kadir Jailani yang telah diriwayatkan oleh Luqman Haqim). Wallahualam.

Persoalan Dari Allah untuk Difikirkan Bersama..


Maha Suci Allah yang telah membenarkan jemari ini masih lagi bergerak untuk menulis sepatah dua kata untuk renungan bersama.. Maha Besar Allah yang masih lagi membenarkan jantung ini berdetik untuk meneruskan hidup untuk beribadat kepadanya..

Entah mengapa dari sejak sekolah lagi aku meminati surah Al-Waqiah.. Mungkin sebab imam ketika itu membawa dengan alunan yang cukup merdu walaupon aku tidak memahami maksud bacaannya.. tapi aku dapat menikmati kesyahduan untuk menambah lagi kekusyukan dan keseronakkan untuk solat berjemaah..

Lalu ku mengambil inisiatif untuk mencari tafsirannya.. Alhamdulillah, sungguh bermakna surah ini bagi diriku untuk memahamkan aku tentang hari esok seperti yang tersebut dalam kalam Allah surah al-Hasyr ayat 18 yang bermaksud "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Harapanku supaya destinasi ku hanya untuk akhirat sana dan mampu menahan godaan dunia yang begitu menghairahkan..

Kadang-kadang kita sering alpha dan lupa akan kekuasaan Allah yang maha Kuasa..
Al-Waqiah ini merupakan salah satu surah daripada banyak lagi surah-surah lain dimana Allah mempersoalkan kita kau atau Aku yang lebih berkuasa.. Walaupon kita berkuasa di kerajjan dunia, Siapa yang lagi berkuasa memerintah Kerajaan kepada kerajaan dunia.. Kerajaan Akhirat yang kekal abadi..

Maha Suci Allah bertanya kepada kita, dari surah Al-Waqiah dari ayat 57-74..
Bermulanya persoalan Allah supaya kita menyedari siapa diri kita..Tidaklah nanti kita lupa akan dari mana diri ini hanya dari mani yang hina..
57: Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan(hari berbangkit??
58: Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.
59: Kamukah yang menciptakanya atau Kami penciptanya??
60: Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah.
61: Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu (di akhirat) dalam keadaan tidak kamu ketahui.
62: Dan sungguh , kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran??
63: Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam??
64: Kamu kah yang menumbuhkanya atau Kami yang menumbuhkan??
65: Sekiranya Kami kehendaki, nescaya kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan hairan tercengang,
66: sambil berkata, "Sungguh kami benar-benar menderita kerugian,
67: bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun".
68: Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum??
69: Kamukah yang menurunkanya dari awan atau Kami yang menurunkan??
70: Sekiranya Kami mengkehendaki, nescaya Kami menjadikanya masin, mengapa kamu tiak bersyukur??
71: Maka pernahkah kamu memperlihatkan terang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)??
72: Kamukah yang menumbuhkan kayu itu, atau Kami yang menumbuhkan??
73: Kami menjadikan (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.
74: Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar..

Subhanallah, Alhamdulillah, Lailahaillah, Allahuakbar..
Betapa sayangnya Allah kepada kita makhluknya yang berakal untuk kita kembali merenung dan berfikir siapakah kita ini?? Kemanakah penghujung kita?? Siapakah yang paling berkuasa??
Ayuhlah kita kembali kepangkal jalan sebelum hati tidak terpadam, selagi nyawa di kandung badan, selagi pintu taubat luas terbentang.. Semoga dalam apa jua tindakan kita, kita akan mendapat kerdhaan dari Allah yang esa..

Cukup bagi ku hanya Allah,
Tiada dihatiku selain Allah,
Cahaya Muhammad pesuruh Allah,
Tiada Tuhan selain Allah..

wasalam...

Student's Registration flow for semester July 09

Since the virus H1N1 are spread all over the world, the university has come up with certain measures to prevent this virus from being transmitted in the university area. So, for ALL UTP STUDENTS, these are some procedure that you must follow as you come back for July 2009 semester.

May God protect us all. Have a safe journey!

Nikmat Allah tidak ternilai harganya...



Assalamualaikum wbt..
"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.. Yang pertama, yang utama dan selama-selamanya, pujian bagi Allah yang menciptakan semua dan Dia masih lagi memberi kita ruang dan peluang untuk hidup dimuka bumi ini dan bernafas tanpa membayar satu sen pun udara yang kita sedut.. Tidak lupa juga selawat dan salam ke atas junjungan besar kita nabi Muhammad s.a.w. kerana dgr keperitan berjuangan baginda kita dapat memiliki dan merasai dua nikmat yang terbesar yakni nikman islam dan iman..

Tanpa kita sedari, kita selaku manusia sering mengimpikan yang terbaik untuk diri kita.. Dan kita akan bergitu kecewa jika impian itu tidak menjadi kenyataan dan hanya sekadar debu berterbangan.. Kita juga sering mengejar yang terbaik sampai yang di kendong berciciran.Dewasa ini ramai di kalangan manusia luper akan bernilainya nikmat Allah dan jarang sekari mensyukuri apa yang telah di milikinya..

Izinkan aku meminjam hati-hati kalian untuk menghayati apa yang ingin di sampaikan. Mudah-mudahan kita semua beroleh keberkatan.. Kekayaan tidak sekali-kali menjamin kebahagian, nikmat dan juga kebahgiaan tidak boleh di beli dengan wang ringgit.. nikmat dan kebahagiaan terlalu subjektif untuk di simpulkan.. Akan tetapi suka aku untuk mengisahkan satu penceritaan moga-moga kita dapat menilai apa itu nikmat dah kebahagiaan..

Dikisahkan ada sepasang pasangan yang hidupnya sangat mewah sekali, makan pakai cukup mewah sekali, setiap kali pulang dari pejabat, pasti nya makanan di sajikan oleh pembantu rumah.. lauk pauknya pula tidak pernah ketinggalan zaman.. Akan tetapi, adakah itu sebenarnya nikmat dan kebahagiaan yang kita impikan.. Lalu bermusafir pasangan itu ke sebuah perkampungan untuk mencari ketenangan di sebalik kesibukan... menyusuri jalan-jalan yang berpintu gerbangkan pohonan rendang, berpagarkan padi di bendang, begitu indahnya alam ciptaan tuhan..

Lirik mata mereka tetumpu ke tengah bendang.. terdapat sebatang tubuh gigih membanting tulang.. dan ketika itu datang nya si isteri menuju ke pondok usang sambil memanggil suaminya berhenti seketika untuk menikmati juadah makanan.. Walaupun sekadar nasi berulamkan pucuk ubi dari halaman, berlaukan pula ikan yang di keringkan.. akan tetapi si suami menikmati makanan itu dengan penuh kenikmatan.. tambahan pula di masak oleh isteri kesayangan.. Cemburu hati pasangan kaya itu melihat kebahagian pasangan di tengah bendang.. walaupun makanan mereka jauh labih mahal dan sedap untuk di bandingkan, tetapi kenikmatan menikmati makanan itu tidak dapat di rasakan..

Oh tuhan...
Terlalu banyak nikmat yang Kau beri tetapi hati2 kami ini tidak pernah mensyukuri..
Dan kekayaan itu tidak sekali-kali menjamin kebahagiaan dan kenikmatan...

sekian..

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (surah Ibrahim: 7)




Blog Widget by LinkWithin